Hari ke-4 Korea Cherry Blossom Trip (Seoraksan with Cable Car, Back to Seoul , Itaewon Mosque, EID Halal Resto ) – G GuestHome Itaewon

Rabu, 30 Maret 2016

Hari ini kami memutuskan untuk leha leha sejenak dimanjakan oleh lantai ondol kamar dan communal kitchen yang unyuw abis membuat mager. Sembari menanti pakaian dicuci mesin yang tulisannya korea semua dan kami asal pencet, kami masak sarapan pagi sepuasnya karena tidak ada pengunjung lain.

Setelah kenyang makan sereal, jus, dan lain-lain, kami bekal roti tawar isi telur ceplok untuk dimakan di Seoraksan. Sebelum meninggalkan dapur mungil yang fantastis dan cozy sekali itu, kami membuat tulisan kenang-kenangan. Kemudian kami bergegas bersiap ke Seorak National Park, tidak lupa bertanya dulu ke Eonnie rute yang harus kami lewati. Seperti biasa ketika dijelaskan campuran Inggris tak lancar dan Korea, kami jawab “ne.. ne..”  lalu ditanya dengan bahasa Korea yang intinya apakah kami bisa berbicara Korea agar lebih cepat dijelaskannya, dan dengan menyesal ketika saya jawab ‘sedikit’ (harusnya saya jawab Hanguk mal motthaeyo saja – I can’t speak Korea), si Eonnie terus nyerocos dan saya sudah kehilangan arah. OMO, akhirnya kami keluar penginapan dan tak sengaja menemukan Tourism Center dengan ahjussi yang bisa Inggris. Kami sih sangat senang mendapat petunjuk lebih jelas di sana, tapi si ahjussi menahan kami lama dan senang sekali dengan kedatangan kami karena beliau pernah ke Indonesia.

Akhirnya sampai juga kami di Seoraksan National Park dengan sekali bus (di Sokcho bayar bus harus uang pas karena mesin kembalian belum otomatis).

Dan komentar pertama Tehe waktu menyusuri tangga selepas turun cable car adalah, “Lha kok mung koyo Gunung Kidul” wkwkwkkw.. Tapi memang karena musim semi awal jadi masih gersang. Obsesi saya untuk bertemu salju pun terpenuhi meskipun saljunya jauh di sela sela bukit karena sudah banyak yang mencair, jadi tak bisa disentuh hiks hiks. Setelah menyusuri tangg panjang,  sampai atas anginnya kencang minta ampun, bbrrrr…

Stelah berpuas-puas foto dan menikmati keindahan alam dari Gunung Seorak, kami antre cable car turun dan makaaaaaaan, tentu saja, no gogi (no meat), dengan menu tteokpokki dan bibimbap sayur untuk bertiga, nyaamm.. ngirit dan kenyang pas.

Kemudian kami kembali ke Mammoth, bersiap pulang dan pamit pada Eonnie.. Saya cuma nanya bagaimana cara ke terminal tapi malah diberi tumpangan, waaaaaaaaaaw.. Terharu sekali rasanya. Di mobil saya coba praktekan bahasa Korea saya yang plegak pleguk gak karuan, beberapa perkataan eonnie bisa saya tangkap seperti ketika dia bilang bahwa dia sekalian pergi ke pasar karena dekat terminal. Sampai terminal, tentu saja kami pilih bus paling cepat berangkat dan melanjutkan tidur sampai Seoul.

Hari ini belum berakhir sampai sini karena kami masih punya target makan makanan halal di EID halal Itaewon setelah menaruh backpack di G-Guesthome yang jalan masuknya masyaAllah, rekor, penginapan paling pelosok yang kami datangi, meskipun ratenya 9 di booking.com, tapi kami sudah kelelahan duluan mencari dan ketika sampai sana, sempit banget brow.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 lebih dan kami malah disuguhi teh oleh pegawai partime dan berbincang-bincang sembari menanti pulihnya tenaga. Dan setelah itu kami mencari EID Halal yang ternyata juga masuk-masuk jalannya agak susah hingga akhirnya, Subhanallah… Masjid Itaewon berdiri dengan megah di tengah kota Seoul di antara pub dan kehidupan malam. Namun dengan penuh penyesalan kami ditolak masuk ke EID halal karena udah mau tutup dan sedang penuh, tempatnya kuecill sekali. Tapi kami direkomendasika ke “Makan Halal”, resto orang korea yang katanya cita rasa mirip EID halal. Yasudahlah, asalkan tidak haram dan lagi males ke resto halal timur tengah atau india yang kari kari semacamnya. Tak usah banyak penjelasan, ini buktinya (kiri-sebelum dan kanan-sesudah). Ueeenaaak pol makanan halal di sana, Ahamdulillah, Samgyettang (sop ayam utuh gingseng), Bulgogi, jus mangga, dan tak lupa nasi serta macam macam side dish disikat habis oleh keganasan kami.Kami makan di sana sampai tutup karena memang kemalaman.

Dengan penuh rasa syukur karena ini makanan terenak selama menapaki Korea, kami menuju Itaewon mosque, rencana mau tahiyatul masjid, tapi sayang tutup. Hiks. Lumayan terpana juga dengan mesjid di Seoul ini, sampingnya juga sudah dibangun sekolah islam, Subhanallah perjuangan para pendakwah di Seoul ini. FYI, Islam masuk di Korea ketika tentara Turki membantu Korea Selatan melawan Korea Utara, disitulah tentara Turki menyebarkan Islam.

Belum berhenti sampai sini, kami lanjut menyusuri jalanan Itaewon yang masih lumayan ramai kios penjualan souvenir hingga akhirnya kami bertemu Ahjussi uwak yang suka sekali dengan Siti Nurhaliza.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s