Big Dreams

Have you ever heard about the God’s plan? How do we know we’re on the right or wrong path?

Do you have a dream? How do you feel when people can achieve your dream easily and effortless while we are struggling to get it but then end up on failure?

Singkat cerita, saya pernah mempunyai mimpi besar sebut saja mimpi A. Saya kejar-kejar mimpi A itu habis-habisan, bertahun-tahun lamanya. Namun saya juga mempunyai mimpi besar B yang tak kalah pentingnya. Kedua mimpi tersebut bukan mimpi main-main karena saya selalu berdoa dan beikhtiar untuk mendapatkannya. Namun kedua mimpi tersebut ada tenggat waktu yang saya rencanakan dalam jangka waktu panjang di mana mimpi A dulu diraih baru mimpi B. Dengan kata lain, jika dalam waktu tertentu mimpi itu tidak terlaksana maka artiknya saya sudah boleh berpasrah dan ikhlas.

DSCN6192.JPG

Suatu ketika mimpi A datang mendekat dan akan jadi kenyataan, begitu pula dengan mimpi B dalam waktu yang nyaris bersamaan. Saya merasa mimpi A ini sudah hampir kadaluarsa mengingat situasi dan kondisi, seharusnya dalam waktu itu saya sudah mengejar yang B.  Selangkah lagi mimpi-mimpi tersebut dapat saya raih, namun saya tidak dapat memperoleh semuanya karena harus memilih salah satu. Film serial “Saw” yang mengajarkan “life is a choice” kembali menampar saya. Sebenarnya kalau dipaksakan mungkin bisa saya kejar lagi mimpi A dan sedikit menunda mimpi B, jadi saya dapat kedua mimpi. Namun, hati ini berkata lain. Mungkin juga ini jawaban dari sholat istikharah saya. I asked Allah many times and I have decided.. I thought about my parents and my future husband as well. Lupakan mimpi A dan raih mimpi B dulu. Why? Karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan untuk meraih keduanya. Saya merasa egois dan terlalu ambis kalau harus mengejar keduanya sekaligus.

Meanwhile, orang-orang disekitar saya dengan mudahnya memperoleh mimpi besar A itu karena memang kesempatan terbuka lebar. Mungkin sekilas tampak kurang adil di saat saya dulu berjuang mati-matian memperoleh itu sedangkan orang lain dengan mudahnya dan dalam waktu singkat memperoleh tanpa usaha sebesar saya yang dulu. Tapi seperti kata pak Emil dalam akun IG beliau, “Equality doesn’t mean justice”. Maka saya hanya bisa tersenyum dan mendoakan mereka yang dimudahkan jalannya karena mungkin saya tidak pernah tahu sebesar apa perjuangan mereka sesungguhnya yang tak kasat mata. Satu hal yang saya tahu, Allah Maha Adil.

For God’s sake, merelakan mimpi besar bukanlah hal yang mudah apalagi ketika itu sudah di depan hidung. Entah sudah berapa waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi yang terbuang untuk meraihnya? uncountable! Menyesal? Tidak. Karena ketika kita yakin bahwa Allah sudah menggariskan demikian, maka demikianlah seharusnya. Bukan berarti menyerah seutuhnya, pesimis, dan bermuram durja, dan malah berprasangka buruk, tapi harus bangkit dan optimal untuk meraih mimpi B dan mungkin mimpi-mimpi lainnya. Allah itu sutradara terbaik di jagad raya ini. Saya yakin niatan baik akan dilancarkan jalannya, kalau tidak lancar? Berarti Allah makin sayang sama kita karena diberi ujian kesabaran yang hadiahnya biasanya lebih manis dari senyum itu.. iyaa senyuman itu. heheehe

P.S: Tujian saya tiap kali menulis bukan hanya sekedar curhat nyampah, pamer, atau menyindir pihak tertentu. Saya menulis untuk merenung dan belajar tentang kehidupan, merekam memori perjalanan, untuk memotivasi diri sendiri, dan syukur-syukur kalau bisa berbagi dan memotivasi orang lain. Semangaat :D!

Advertisements

January, 12th 2017

Hello there,

Today is my birthday but I am getting more depressed. Why? Because I realized that I am being soooo old. Hahahaha. I don’t really care about celebration, gifts, etc. All I know that I am really thankful to Allah SWT that I am alive and healthy at this new age (a little bit sick though). Alhamdulillah, I have such a great family and friends who pray for my birthday, even though my special one won’t say single world becuase he still in quarantine :(. I hope you’re doing well there!

Well, my resolution is: to be a better person with better habbits! Yes I know it’s easy to say but I want to ‘hijrah’. And I need you, dear friends, family, and of course you Mr. Menga XD!

_IamTheBirthdayGirl_

Hari ke-6 Korea Cherry Blossom Trip (Busan-Jinhae Cherry Blossom Festival – BFF Square – Jagalchi Fish Market) Blueboat Hostel Nampodong

Aaaargh akhirnya setelah ke pending lumayan lama, disempetin juga nulis hari ke-6 di Korea.. Thanks to salah satu pembaca blog yang nge-dm fesbuk buat nanyain itin korea ^^. Jadi hari ke-6 ini adalah main mission kami melakukan perjalanan ke korea, yaitu Jinhae Cherry Blossom Festival. Sebenarnya festival bunga sakura di Korea saat musim semi itu banyak. Kata teman-teman saya orang korea juga, kondisi Cherry Blossom tidak menentu dari tahun ke tahun..Penyebabnya? Biasaaaa,, climate change.. global warming, jadi pancaroba gak hanya terjadi di daerah tropis seperti Indonesia. Si bunga sakura ini hanya mekar beberapa hari lalu gampang gogrok alias jatuh berguguran jika tertiup angin kencang apalagi hujan. So, Han oppa bilang kalau aku sampai dapat sakura, berarti memang beruntung. Sepertihalnya saat Minwoo bilang kalo aku sampai ketemu Salju di Seoraksan, berarti saat itu sedang beruntung. Jadilah saat diceramahin gitu, saya langsung gak berharap banyak bertemu sakura dan salju, yang penting enjoy saja karena tiket sudah terbeli pada saat yang tidak bisa kita pilih dengan bebas karena ngepasin tanggal merah dan harga promo. 12001838_749274928510738_337017916_o

Han oppa sempat mengirimi saya peta persebaran Cherry Blossom.. Di Seoul sendiri, sakura baru akan mekar sekitar pertengahan April, jadilah aku cari-cari  daerah yang ada sakura mekar di akhir Maret sampai awal April, daaaan ketemu Jinhae! Dari sana saya bisa lihat Busan termasuk yang mekar lebih awal. So, i decided to google it more and more..  FYI, Jinhae Cherry Blossom Festival selalu diselenggarakan tiap tahun dari tanggal 1-10 April. Jadi aku dapat hari pertama karena pas sekalian jalan ke Busan, sekitar 2 jam dari Jinhae naik Bus dari Sasang station seharga 5100 KRW.

12901480_10206038437616082_6306509003626113492_o 12967397_10206038437376076_3770866514320654956_o

Setelah mendapat tiket di terminal Bus tersebut, kami sempat mengantri seperti ular karena hari pertama festival. Kebetulan kami bertemu Cewek2 Malaysia yang satu penginapan di Blueboat Hostel dan juga Nak Cakap, solo travel dari Malaysia gebetannya Clara dan Tehe. Wkwkwkwk

Akhirnya, setelah tiket di tangan, kami naik bis sambil menikmati Sakura busan yang berwarna soft pink sepanjang perjalanan. Dan sampailah kami di tempat yang didambakan dari awal… >,< Alhamdulillah.. Kami disambut tarian tradisional Eonnie2 berhanbok cantik bawa kipas.. Sayangnya food marketnya rada kurang ramah buat muslim, ada yang manggang kepala babi juga jadi kami ga berani macam2macam. Untung udah bawa bekal roti telor dari Hostel.

12961327_10206038438456103_4285550594305930657_o 12472289_10206038438576106_6690513371066536431_n

Meskipun sempat berbingung-bingung ria nanya sana sini, sampai juga kami ke tempat impian yang susah namanya, Yeojwacheon Stream yang unch unch banget, tapi ramenyaaaaa beuuuuhh! Isinya kebanyakan pasangan2 co cwit dan sok swit dari yang beneran romantis sampai alay. Jadi Jinhae CBF ini luaaaaaaaaaaas banget, saya salah banget karena tidak mempelajari detail lokasi. Di sana crowded banget bahkan sampai sumuk alias hareudang alias gerah… yang saya tahu dan pengen saat itu hanya dua lokasi yang tidak tahu namanya, salah satunya sudah kesampaian, stream yang ada payung-payung unyuw tersebut, dan satu lagi yang gak kesampaian adalah lokasi yang ada kereta dan rel. Huuuuwww

12901074_10206038466376801_7555611856448707357_o

Setelah berpuas-puas foto nyelip-nyelip di tengah kerumunan orang, kami istirahat sebentar di bawah rontoknya sakura menerpa wajah.. Sebenarnya serbuk bunganya kurang begitu baik sih, tapi kami suka sensasinya dan merekam berkali-kali. Kemudian dalam momen yang sangat romantis tersebut, terdengar jelas dari speaker di sepanjang stream suatu lagu yang tidak asing, apalagi kalau bukan OST DOTS yang menyertai perjalanan kami selama di Korimin, Always-Yoonmirae. Saya, Tehe, dan Clara serentak langsung teriak teriak dan merekam dengan khidmad.. Aaaaaaiiii Looooooovvvvvvyuuuu… Rekaman itu masing-masing tersimpan di kamera dan memori kami. Berikut saya sajikan foto-foto cantik bersama Cherry Blossom

12963798_10206038441256173_3876679072921471626_n  12439281_10206038442376201_7909673671794272376_n

11144490_10206038444296249_5316340901419877230_o

12909472_10206038442056193_2646638224981873002_o  12920318_10206038441376176_3067988791255377551_n

Tidak lupa juga kami beribadah meskipun berada di tempat antah berantah, karena dengan begitu hati jadi lebih tentram dan merasa selalu dijaga dan dilindungi.

12961335_10206038443216222_7446705647970177002_o

Ada kisah lucu tapi uwak saat kami antri kamar mandi.. Sepanjang Korea trip, beberapa kali kami bertemu oppa oppa wamil yang kece tapi trauma karena mereka cenderung cuek dan sombong.. Tapi di sini, kami bertemu seorang oppa wamil yang luar biasa ramah. Saat itu Tehe sedang siap siap sholat dan saya juga Clara antri ke toilet.. Saat antrian penuh, oppa wamil lewat dan Clara histeris, “Mbaak mbaaakkkk,,, oppa wamil senyumin aku, kyaaaaaaaaaa” What? masa sih. Lalu tak lama kemudian oppa wamil yang ramah tadi menghampiri sembari berkata intinya “Kamu mau masuk kamar mandi cowok yang gak antri? silakan tidak apa-apa mumpung masih sepi” Hmmmm,, saya pasang tampang ragu dan menolak halus lalu sang oppa bilang “It’s okay, I will protect you.. I care about you” Diiiieeeeeeeeeeeeeerrrrr. Piye perasaanmu nek dikoyo ngonokke karo oppa oppa wamil gahul kece. Dan kemudian kami melayang dan ngeces.. Nggak ding, saya langsung masuk KM Namja yang dijagain langsung sama oppa wamil kalo-kalo ada cowok masuk. Keluar dari sana, saya sama Clara cerita sama Tehe yang ternyata Tehe juga diajak ngobrol sama Oppa wamil ramah itu dan sedang melayang. kyaaaaaaaaaaa… Satu lagi, jaketku ketinggalan di KM cowok dan si oppa mengambilkannya.. Aaaaaaaakkk… Kami menyesal kenapa tidak meminta foto bersama oppa ramah tersebut. Hiks hiks…

Begitulah kami di Jinhae, sampai kehabisan waktu ke spot foto yanga da kereta dan sempat salah ngira lokasi tersebut. Kira-kira fotonya seperti ini.. Uuuuuuuwwww co cwit kan.

12901001_10206038444776261_3052611322401206801_o

Antrian pulang ke Busan sama seperti antrian saat berangkat, berular ular. lagi-lagi bertemu nak cakap.. wkwkwk. Sesampainya Busan, ternyata udah surup.. kami ke Jagalchi tapi sayang tutup di gedung utamanya.. jadi hanya berkeliling di sekitarnya yang bau amis.. Hahahaha.. Kami sempat nyasar juga di BFF, Busan Film Festival yang banyak cap jari artis padahal gak narget ke sana..

12919863_10206038445816287_8538687221339601563_n 12968174_10206038446136295_703071123256131965_o

Sekian perjalan misi utama kami di Jinhae Cherry Blossom Festival.. sampai penginapan kaki kaki wes kemropok.. Hari selanjutnya adalah hari terakhir Tehe di Korea, saya dan Clara masih stay sampai lusa.. See you next story!

 

 

 

 

 

 

Hari ke-5 Korea Cherry Blossom Trip (KTX Seoul-Busan, Busan City Tour – Oryukdo Sky Walk, Haeundae, Dongbaekseom, Gwangali beach) – Blueboat Hostel Nampodong

Kamis, 31 Maret 2016

Di hari ke-5 ini, tenaga kami mungkin sudah terkuras karena trip kami rada gak santai biar tercapai tujuan-tujuan sesuai itin, tapi rasa gembira dan penasaran kami, juga counterpain dan habbatussauda yang kami konsumsi mengalahkan itu semua. Hingga akhirnya kami sampai di bagian selatan Korea Selatan, Busan. Jarak Seoul Busan kira-kira seperti Jogja-Surabaya, sekitar 300-an km, tapi waktu tempuh yang kami lalui luar biasa singkat, hanya sekitar 2.5 jam dengan shinkansen nya korea, KTX. Sebelum berangkat, Fiona, sang pemilik Guesthome menyiapkan peralatan dan ransum di dapur untuk sarapan pagi kami. Seperti biasa kami bekal  juga untuk di kereta, dan langsung ciaw ke Seoul Station. Pembelia KTX cukup mudah karena banyak counter, kami langsung beli untuk Seoul-Busan dan Busan-Daejeon (satu orang, total +/- 1 juta rupiah). Tiket seharga pesawat itu, kami simpan dengan hati-hati sambil menanti masuk kereta yang lokomotifnya berbentuk aneh itu.

Sebenarnya cukup banyak alternatif transport Seoul-Busan pp, yaitu Bus, pesawat, dan Kereta. Keretea sendiri ada beberapa jenis, kalau yang mirip di Indonesia namaya Mungunghwa, harga setengahnya KTX, tapi waktu tempuh juga 2 kali lebih lama, mirip dengan bus. Tapi kami megejar waktu dan penasaran dengan KTX, semoga Indonesia segera punya. Kabarnya sedang dibangun untuk Jakarta-Kabupaten Jabar. DI KTX sempet-sempetnya saya foto sama oppa army karena lagi booming Descendant of the Sun, tapi sayang blur dan oppa nya gak terlalu ramah, jadi males ambil lagi.

Btw, sesampainya Busan, entah mengapa kami semua sepakat, Busan bisa aja. Entah karena sedang mendung juga atau bagaimana, tapi kami udah lebih kesengsem sama Seoul, hahaha. Tapi jangan salah, kami cukup takjub dengan kota pelabuhan itu, banyak kapal kapal besar dan gedung-gedung industri tinggi menjulang. Kami juga senang karena di mana -mana banyak bunga bertebaran.

Perjalan kami menyusuri mungkin memang Busan agak sendu, karena kami juga ketinggalan bus. Jadi ceritanya, sesampainya di Busan Station, kami pesan BUTI (Busan City Tour) agar tidak nyasar-nyasar karena Busan tidak segampang Seoul untuk mencari Subway. Sebelum beli tiket BUTIyang kalau dirupiahkan sekitar 150ribu, kami menaruh backpack di loker stasiun, yang sangat banyak tersedia dan cukup mudah dan murah penitipannya.

Destinasi pertama kami adalah yang paling kami penasaran, yaitu Oryukdo Sky Walk. Saya lihat di running man sedangkan Tehe lihat di acara triplet Daehan Minguk Manse. Tapi setelah samapi sana,, alamaaakkk…. Keren sih, tapi sempit juga tempatnya, hahaha…

Di seberang Oryukdo sebenarnya ada Igidae Park, tapi bus terakhir jalur oryukdo tidak lama lagi akan menjemput jadi kami hanya sebentar. Padahal saat menunggu pergantian bus ke Haeundae lumayan membuang waktu juga. Di Haeunda pun kita  disambut burung gagak “Koaaakkkk koaaak koaaak” krik krik, ternyata sepi dan bingung karena mendung, tapi bagaimanapun akhirnya sampai juga di destinasi lagu “Busan Vacance” yang dinyanyikan Haha n Skull. Pantainya luas dan sangat bersih, cocok untuk wisata keluarga bawa anak kecil lari-lari.

Setelah sholat di sekitar Busan Aquarium, kami lanjut ke Dongbaekseom dan Gwangali untuk melihat Gwangan Bridge malam-malam. Niat awal masih ingin naik bus BUTI itu, tapi apa daya, karena kita kelamaan ambil video di haeundae, kami ditinggal bus terakhir, hiks hiks. Jadilah kami sempat bingung untuk menuju dongbaeok seom, karena aslinya kami juga gak paham di sana ada apa, hanya karena ada di lagunya Haha jadi ya saya masukin itin. Ternyata Dongbaek seom itu ga terlalu jauh dari Haeundae, kami pun jalan kaki. Di tengah jalan lagi-lagi kami bertemu ahjussi uwak.. Wkwkkww.. Sepertinya di sana kami menjadi favorit ahjuma dan ahjusi (Oppa oppa malah nyuekin-yaiyalaaah, haha).

Hari sudah mulai menggelap, kami akhirnya beremu Gwangali juga. Di sana dapat terlihat Gwangan Bridge, cukup sebagai tombo karena kami tak sempat ke Banpo Bridge di Seoul yang ada rainbow fountainnya.

DSCN2296

Setelah berpuas di Gwangali, di sinah saat puncak kelelahan karena kami gak nemu-nemu yang namanya subway. Internet tidak ada, orang-orang juga banyak yang gak bisa ditanyai bahasa Inggris. Jalaan dan jalaaaan sampai ujung lalu bertemu dengan bule yang udah tinggal di Busan lumayan, alhamdulillah. Dia memberi tahu arah subway terdekat yang ternyata masih jauh, lebih dekat bus stop,tapi dia juga gak yakin karena gak hafal. Dan Clara yang matanya sudah setengah hidup berkata,

“Hari ini ketoke aku rodo ‘weng’ deh.  Entah apa arti wng itu tapi kami semua tertawa. Akhirnya kami sampai bus stop yang di list nya ada bus malam yang menuju Busan Station, Alhamdulillah.

 

 

Hari ke-4 Korea Cherry Blossom Trip (Seoraksan with Cable Car, Back to Seoul , Itaewon Mosque, EID Halal Resto ) – G GuestHome Itaewon

Rabu, 30 Maret 2016

Hari ini kami memutuskan untuk leha leha sejenak dimanjakan oleh lantai ondol kamar dan communal kitchen yang unyuw abis membuat mager. Sembari menanti pakaian dicuci mesin yang tulisannya korea semua dan kami asal pencet, kami masak sarapan pagi sepuasnya karena tidak ada pengunjung lain.

Setelah kenyang makan sereal, jus, dan lain-lain, kami bekal roti tawar isi telur ceplok untuk dimakan di Seoraksan. Sebelum meninggalkan dapur mungil yang fantastis dan cozy sekali itu, kami membuat tulisan kenang-kenangan. Kemudian kami bergegas bersiap ke Seorak National Park, tidak lupa bertanya dulu ke Eonnie rute yang harus kami lewati. Seperti biasa ketika dijelaskan campuran Inggris tak lancar dan Korea, kami jawab “ne.. ne..”  lalu ditanya dengan bahasa Korea yang intinya apakah kami bisa berbicara Korea agar lebih cepat dijelaskannya, dan dengan menyesal ketika saya jawab ‘sedikit’ (harusnya saya jawab Hanguk mal motthaeyo saja – I can’t speak Korea), si Eonnie terus nyerocos dan saya sudah kehilangan arah. OMO, akhirnya kami keluar penginapan dan tak sengaja menemukan Tourism Center dengan ahjussi yang bisa Inggris. Kami sih sangat senang mendapat petunjuk lebih jelas di sana, tapi si ahjussi menahan kami lama dan senang sekali dengan kedatangan kami karena beliau pernah ke Indonesia.

Akhirnya sampai juga kami di Seoraksan National Park dengan sekali bus (di Sokcho bayar bus harus uang pas karena mesin kembalian belum otomatis).

Dan komentar pertama Tehe waktu menyusuri tangga selepas turun cable car adalah, “Lha kok mung koyo Gunung Kidul” wkwkwkkw.. Tapi memang karena musim semi awal jadi masih gersang. Obsesi saya untuk bertemu salju pun terpenuhi meskipun saljunya jauh di sela sela bukit karena sudah banyak yang mencair, jadi tak bisa disentuh hiks hiks. Setelah menyusuri tangg panjang,  sampai atas anginnya kencang minta ampun, bbrrrr…

Stelah berpuas-puas foto dan menikmati keindahan alam dari Gunung Seorak, kami antre cable car turun dan makaaaaaaan, tentu saja, no gogi (no meat), dengan menu tteokpokki dan bibimbap sayur untuk bertiga, nyaamm.. ngirit dan kenyang pas.

Kemudian kami kembali ke Mammoth, bersiap pulang dan pamit pada Eonnie.. Saya cuma nanya bagaimana cara ke terminal tapi malah diberi tumpangan, waaaaaaaaaaw.. Terharu sekali rasanya. Di mobil saya coba praktekan bahasa Korea saya yang plegak pleguk gak karuan, beberapa perkataan eonnie bisa saya tangkap seperti ketika dia bilang bahwa dia sekalian pergi ke pasar karena dekat terminal. Sampai terminal, tentu saja kami pilih bus paling cepat berangkat dan melanjutkan tidur sampai Seoul.

Hari ini belum berakhir sampai sini karena kami masih punya target makan makanan halal di EID halal Itaewon setelah menaruh backpack di G-Guesthome yang jalan masuknya masyaAllah, rekor, penginapan paling pelosok yang kami datangi, meskipun ratenya 9 di booking.com, tapi kami sudah kelelahan duluan mencari dan ketika sampai sana, sempit banget brow.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 lebih dan kami malah disuguhi teh oleh pegawai partime dan berbincang-bincang sembari menanti pulihnya tenaga. Dan setelah itu kami mencari EID Halal yang ternyata juga masuk-masuk jalannya agak susah hingga akhirnya, Subhanallah… Masjid Itaewon berdiri dengan megah di tengah kota Seoul di antara pub dan kehidupan malam. Namun dengan penuh penyesalan kami ditolak masuk ke EID halal karena udah mau tutup dan sedang penuh, tempatnya kuecill sekali. Tapi kami direkomendasika ke “Makan Halal”, resto orang korea yang katanya cita rasa mirip EID halal. Yasudahlah, asalkan tidak haram dan lagi males ke resto halal timur tengah atau india yang kari kari semacamnya. Tak usah banyak penjelasan, ini buktinya (kiri-sebelum dan kanan-sesudah). Ueeenaaak pol makanan halal di sana, Ahamdulillah, Samgyettang (sop ayam utuh gingseng), Bulgogi, jus mangga, dan tak lupa nasi serta macam macam side dish disikat habis oleh keganasan kami.Kami makan di sana sampai tutup karena memang kemalaman.

Dengan penuh rasa syukur karena ini makanan terenak selama menapaki Korea, kami menuju Itaewon mosque, rencana mau tahiyatul masjid, tapi sayang tutup. Hiks. Lumayan terpana juga dengan mesjid di Seoul ini, sampingnya juga sudah dibangun sekolah islam, Subhanallah perjuangan para pendakwah di Seoul ini. FYI, Islam masuk di Korea ketika tentara Turki membantu Korea Selatan melawan Korea Utara, disitulah tentara Turki menyebarkan Islam.

Belum berhenti sampai sini, kami lanjut menyusuri jalanan Itaewon yang masih lumayan ramai kios penjualan souvenir hingga akhirnya kami bertemu Ahjussi uwak yang suka sekali dengan Siti Nurhaliza.

Hari ke-3 Korea Cherry Blossom Trip (Gyeongbokgung, Gwanghamun square, Gangnam, SM COEX Artrium, SM Building, Sokcho) – Mammoth Hotel and Resort

Selasa, 29 Maret 2016

Karena melihat teman-teman dan saya sendiri terlihat cukup lelah, di hari ke-3 kami mengubah itin perjalanan kami yang tadinya langsung berangkat menuju Sokcho, tapi kita tunda dulu leyeh-leyeh di Bong Backpacker, itung-itung pengeluaran, dan membuat rincian itin hari ini dan besok. Jadi sekitar pukul 9 kami baru keluar sarapan di dapur dan check out tapi nitipin tas. Kira-kira setengah 10 kami sudah berfoto ria di depan Gyeongbokgung yang sedang direnovasi dan patung King Sejong pencipta huruf Hangeul.

Gyeongbok sudah terlewatkan karena kesalahan di hari pertama kemaren yang malah ke Changgyeonggung, hahahaa. Tapi gapapalah, ada fotonya di depan juga udah lumayan senang.

Nah yang bikin bingung adalah gimana cara ke Gangnam karena waktu itu bingung cari subway muter-muter. Akhirnya kami naik bus yang petunjuk rute dan lokasi sebagian besar pakai Hangeul, hmmm. Saya yang belum lancar baca Hangeul kan jadi lama, jadi di hari inilah hari bertanya paling banyak dilakukan. Untuk ke COEX sih tidak banyak bertanya karena petunjuk sudah jelas. Ternyata Gangnam di waktu dhuha itu sepi, cuma sedikit orang lalu lalang, mungkin baru hidup kotanya sore dan malam. Sedikit perbedaanya dengan kota lain yang kami singgahi sebelumnya, di Gangnam ini orang-orang terutama cewek lebih modis dan sebagian tampak tidak natural entah oplas atau make up. Yang namanya plastic surgery bertebaran di sana mulai yang dari kaya warung sampai aesthetic center yang mewah. Sampai COEX kami langsung menuju SM Artrium yang disambut Patung Crafting EXO sama SHINee, pas banget ini dua group kesukaan.

Di dalam COEX Mall tersebut, ada tokonya SM, studio, hologram, dll. Lagi-lagi karena mau ngirit uang dan waktu, kami gak berlama lama karena harus mencari SM Building.

Selama perjalanan saya di Korea, satu-satunya tempat yang susah dicari yo iki. Huuuffftssssss… Saya sama Tehe sendiri udah menyerah dan mau skip aja, tapi Clara masih ngotot juga pengen ke sana, hahaa. Yoweslah biar gak penasaran juga, asalkan kalo tetep mau nyari ya silakan nanya-nanya kanan kiri depan belakang, saya sudah habis energi karena juga mikir gimana caranya ke Sokcho malam-malam. Fyi, perjalanan Seoul – Sokcho tidak direkomendasikan sampai larut malam, karena sampai sana sangat beda dengan Seoul, bagaikan di antah berantah dengan semua tulisan Hangeul dan sebagian besar orang tak berbicara atau bisa membaca huruf biasa selain korea. Ok, kembali ke Gangnam, yang bikin njelimet pencarian kita tentang SM Building ini adalah alamat yang tidak jelas dan petunjuk di internet juga salah, entah sudah pindah atau bagaimana. Walaupun kami nyasar juga sampai K-Star Road yang cukup menghibur walau diluar rencana.

Pokoknya setelah nanyain puluhan orang akhirnya kami dibantuin seorang Eonnie yang bisa Enggres dan saya maintain tolong pesen taxi untuk ke sana langsung. Well, sampailah kita di SM Building yang ternyata gitu doang, ngarepnya padahal ketemu artis atau dengerin suara gladi resik mereka. Wkwkwkwk. Kami hanya berbelanja di tokonya yang lebih lengkap dibanding di COEX, lalu bergegas kembali ke penginapan.

Hal ironis yang menggelikan kembali terjadi ketika kami mau cepat sampai terminal dan biar gak keberatan bawa backpack 11 kg ini, kami naik taxi ke Gangbyeong station dekat Dong Seoul Bus Terminal, tapi justru malah bikin lama dan muahaaallsss… Macetnyaa itu lho, mending naik subway atau bus deh. Tadinya kami mengira Gangbyeong tidak ada di metroID, aplikasi offline subway Seoul yang sangat membantu kami, tapi ternyata namanya Ganbyeong guys. Pokoknya, selagi masih bisa naik subway dan bus, mending hindari taxi. Cuma international taxi mungkin yang bisa mengerti kita, sayangnya jumlahnya sedikit sekali. FYI, kata seonsaengnim les Korea saya, supir taxi di sana adalah pekerjaan orang yang malas berusaha dan cari kerja lebih baik, agak berbeda dengan di Indonesia, di sini kumpulan pemalas ya jadi pengamen atau preman, supir taksi mending banget.

Udara dingin mulai menggerogoti kami sesampainya di Gangbyeong. Kami bergegas memesan bus untuk pemberangkatan 30 menit lagi. Tapi karena masih ada bus kosong yang akan berangkat, saya coba dekati kondektur dan memohon supaya bisa naik segera agar cepat sampai tidak kemalaman. Kemudian ahjussi tersebut seperti tidak mengijinkan, tapi ahjussi satunya malah menyuruh kami masuk-masuk saja karena toh tidak ramai busnya. Fiuuh, akhirnyaaa… Karena kelaparan, saya buka bekal Shrimp burger dan kentang McD yang tadi sempat dibeli dekat penginapan Bong. Perjalanan Seoul-Sokcho via Intercity bus ini lumayan, 3-4 jam baru sampai Sokcho Intercity bus terminal. Ini dua jalur yang dapat dilalui dari Seoul ke Sokcho dan sebaliknya:

  • Express Bus Terminal di Gangnam, turun di Sokcho Express Bus Terminal
  • Intercity Bus Terminal di Dong Seoul, turun di Sokcho Intercity Bus Terminal

Karena penginapan kami lebih dekat ke Dong Seoul, kami ambil jalur intercity, yang ternyat amasih harus disambung taxi karena sudah larut. Tapi apa yang terjadi di penginapan guys, tidak ada orang! Namanya juga berbeda dari booking.com, Mammoth Hostel, sedangkan kami diturunkan di Mammoth Resort and Guesthouse. Jreng,, khawatir salah, saya sudah menyerah dan berencanan menunggu di loby hingga pagi. Tapi ternyata datang sang pemilik yang baik hati dan ternyata sudah menunggu kami dari pagi sambil menyodorkan kertas berisi nama saya. Alhamdulillah. Dan setelah masuk kamar, Alhamdulillah, kamarnya nyaman sekali. Kami pesan ruang besar bertiga dengan kasur gulung tapi dikasih kamar besar dengan kasur dipan plus kasur gulung, kamar mandi dalam bersih sekali, dan yang membuat kami paling bahagia karena kami bisa gelundung-gelundung di lantai ondol yang hangat dan nyaman, luar biasa. Kami tidur sangat pulas malam itu.

 

Hari ke-2 Korea Cherry Blossom Trip 2016 (Nami Island, Petite France, Garden of Morning Calm, Myeongdong) – Bong Backpacker

Senin, 28 Maret 2016

Hari ke-dua kami sangat gesit bergegas, dari Bong Backpacker lari-lari ke Subway Hyehwa untuk menuju Cheongnyangni demi naik ITX pukul 08.20. Sesampainya di Cheongnyangni subway, semuanya mengikuti saya lari-lari di belakang hingga saya bilang “Yeah, bus station, ayookkk…” Saya kesenangan membaca petunjuk karena akhirnya nemu jalan keluar dari subway ke Bus yang naik tangga buanyak sekali. Tapi sampai atas saya terkulai, lah bukannya kita mau ke Cheongnyangni station naik kereta, kenapa malah ke tempat bis? Lalu semua bengong dan lemas. Dan setelah sadar dari kebengongan pagi itu kami semua bergegas mencari stasiun tersebut lari-lari lagi. Sorry guys! Akhirnya ketemu juga stasiun tersebut. Dengan bantuan Ahjussi petugas stasiun, kami berhasil medapat tiket ITX duduk untuk jam 8.20 pada jam 8.15. Huft! Lari lagi ke tempat pemberhentian kereta. Kami langsung naik, duduk, dan membuka bekal Onigiri Tuna plus banana milk, minuman kesukaan kami. Seharusnya kami dapat sarapan di penginapan, tapi tadi belum disiapkan karena memang ini terlalu pagi untuk kehidupan awal musim semi.

Sekitar 45 menit, ternyata kami sudah sampai di Gapyeong Station. Di depan stasiun sudah disambut oleh Gapyeong City tour bus sesuai yang saya tulis di ITIN, harga 6000 KRW untuk round trip beberapa objek. Alhamdulillah. Pemberhentian pertama adalah Namiseom atau Nami Island. Fyi, “seom” artinya island. Eits, tapi sebelum sampai Naminara (Republik Nami), kita harus beli tiket masuk dan fery. Jadi ada dua acara menuju Nami, dengan Fery atau Zip wire. Karena zip wire mahals, jadi saya tidak ke sana.

Hingga di dalam ferry, kami bercanda tentang penampilan Tehe yang kayak ahjuma, wahahaha. Bahkan dia sendiri bilang kayak pengungsi. Sementara saya dan Clara udah sok-sok OOTD. Waakakaka. Eits, tapi jangan salah, gitu-gitu Tehe punya fans dari Malaysia, yang kemudian kami sebut Nak Cakap karena dia satu-satunya yang diajak bicara pas ketemu di Busan. Yeaaah, meskipun rebutan sama Clara sih, wakakakaka, silakan pingsut untuk mendapatkan nak cakap.

Tak lama kemudian, ferry sampai juga ke pulau berbentuk bulan setengah agak sabit itu. Kami semua langsung terpesona dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi dan berbagai spot yang sangat disayangkan kalau tidak dipakai foto. Saya sendiri kepikiran ini pulau sebenarnya biasa aja, di Indonesai pasti juga banyak, tapi Nami ini beneran disulap khusus untuk menyenangkan tidak hanya warga Korea tapi wisatawan mancanegara karena menyuguhkan beberapa atribut negara-negara lain seperti yang terlihat pada gambar.

IMG_20160328_103258_HDR

See? Banyak sekali simbol-simbol negara di Nami ini. Konsepnya sungguh membuat kita ingin menjepretkan kamera di segala sudut pula ini.

Di nami kami mengitari sambal berfoto dan merekam video sampai di spot Winter Sonata. Yaampun, padahal kami juga ga ada yang nonton Winter Sonata, tapi kurang afdol rasanya kalau melewatkan foto di samping patung Baek Ji Young dan kekasih itu.

 

Setelah berpuas puas di Nami, kami naik ferry kembali lalu ke tempat menunggu bus menuju Petite France. Kalau kata Minwoo, seandainya waktu saya terbatas, Petite France skip aja karena tidak terlalu special, dan ternyata benar guys. Meskipun tersohor karena sempat menjadi lokasi shooting running man dan beberapa drama fenomenal seperti My Love from Another Star, tempat-tempatnya kecil. Yaah namanya juga petite. Hihihi..Kira-kira beginilah bentukpetite france

Setelah tour singkat karena dalam waktu sebentar sudah terjelajah semua, kami menuju pemberhentian bus untuk destinasi selanjutnya, “The Garden of Morning Calm” Atau biasa disebut Achim Gongwon Sumokwon oleh orang lokal. Tapi sesampainya di sana, tetetetereeeeeeeettttttttt.. Gersang.. Zooonggggg… Krik krik kriik.. Dan burung gagak ikutan,, Koaakkk koaaakkk… Tambah suara angin, “Phewwwwwwww”

Karena gak jadi masuk, kami cuma sholat di parkiran lalu menunggu bus pulang ke Gapyeong Station. Lumayan lama kami menanti, akhirnya bus datang dan sesampainya di stasiun kami langsung pesan ITX pulang ke seoul sebelum gelap. Alhamdulillah walaupun hanya dapat tiket berdiri, kami dapat segera pulang dan ketempat perbelanjaan tersohor seantero seoul, yaitu Myeongdong!

Di Myeongdong kami kalap membeli masker sheet yang buy one get one di segala jenis merk, Etude house, Tony Moly, The Saem, Nature Republic, Face Shop, Holika-holika, dll. Lumayanlah, yang biasanya kita beli di Indonesia harganya bisa setengah bahkan hanya seperampatnya kalau dibanding counternya di mall-mall Indonesia. Tidak lupa juga membeli produk iklannya SHINee, hand cream the saem dan si Clara muter-muter cari Nature Republic yang edisi Kai. Wakkk.. Tragisnya malam itu adalah, Tehe kebelet pipis dan di Myeongdong susah amiiirrrr cari Hwajangsil alias toilet. Tips kalau mau ke myeongdong, pas turun di subway mending pipis dulu deh..

Okay, next chapter akan saya lanjutkan setelah saya bikin draft simposium, InsyaAllah, Fighting!!